Cerita Pagi
By: Ukhti Ummu Hani
Pagi ini, seperti biasa, sambil menunggu suamiku bersiap-siap ke kantor, aku duduk di teras dengan secangkir kopi dan HP – yang hampir tak pernah ketinggalan. Tidak lama kemudian, ibuku duduk disampingku. Entah apa yg ada dipikirannya, tiba-tiba saja dia membuka pembicaraan dengan pertanyaan, “Kenapa sih jaman sekarang orang slalu memandang orang lain dari hartanya? Mudah-mudahan kita bukan bagian dari orang-orang kayak gitu y….”
Ia pun mulai bercerita tentang uztadzahnya yang baru meninggal 2 bulan yang lalu.Namanya Udztadzah Mahani. Mungkin sebagian orang sudah mengenal orang mulia ini. Jujur saja, saya tidak mengenal sosok ini secara langsung. Tapi kepribadiannya yang mengagumkan menggugah hati saya.Mungkin diantara orang-orang kaya dan berpendidikan, sosok ini tidak dikenal atau yaaaa mungkin dia dikenal hanya sebagai guru ngaji yang miskin.
Ibu saya mengikuti pengajiannya setiap Rabu siang di Cawang. Saya tidak tahu, dimana lagi beliau mengajar. Rumahnya di daerah Larangan. Setiap Rabu, dengan baju yang sederhana, dia turun naik angkot dan bis (sekitar 6x turun naik bis atau angkot pulang-pergi) dari Larangan ke Cawang. Bukan jarak yang dekat untuk wanita usia 68 tahun. Kalau ada muridnya yang menawarkan untuk antar jemput dengan mobil, dia menolak halus.
Dia selalu berangkat sekitar jam 10an, sampai di Cawang menjelang Dzuhur. Setelah sholat Ashar dia pulang, sholat Magrib di salah satu masjid yang dia lewati dan sampai setelah Isya. Belum kalau bisnya lagi demo, bisa tengah malam baru sampai rumah.
Kalau kita terkagum-kagum dengan semangat Lintang di film Laskar Pelangi, kita juga pasti terkagum-kagum dengan perjuangan Uztadzah Mahani.Bayangkan, untuk wanita 68 tahun, harus berjalan sendiri dan pulang tengah malam – beliau tidak menikah dan tinggal dengan saudaranya – naik turun angkot, hanya untuk mengajar mengaji. Tak ada kata absen, selalu hadir walau diluar udaranya panas atau sedang musim hujan dan banjir, walau muridnya banyak yang tidak masuk. Ia tetap masuk karena tidak ingin mengecewakan murid-murid yang sudah hadir. Penghasilannya hanya dari uang sukarela murid-muridnya, bukan dari iuran tetap. Apa kita bisa seperti beliau di umur 68 tahun?
Tiba-tiba di bulan Ramadhan kemarin, beliau meninggal.Ia hanya sakit 2 hari dan meninggal di rumah sakit. Sebelum meninggal, ia bilang pada saudaranya kalau ini sakit maut. Semua orang yang mengenalnya terhentak mendengar kabar duka ini. Tiga hari sebelum meninggal dia masih beraktivitas keluar rumah dan di hari meninggalnya dia ada jadwal mengajar mengaji di satu tempat.Semua muridnya datang takziah ke rumahnya dan sebelum dikubur, murid-muridnya mengkhatamkan Qur’an untuknya.
Beberapa minggu sesudah meninggal, seseorang bercerita kepada kami kalau sebenarnya Udztadzah Mahani menderita penyakit yang cukup parah (semacam kanker, tapi entah dimananya) yang mungkin untuk orang lain akan membuatnya tergeletak di tempat tidur sampai akhir hayatnya. Tapi dengan kuasa dan ridho Allah, ia tidak merasakan sakit dan tetap bisa mengajar mengaji sampai ajal menjemputnya.
Setelah meninggalnya pula kami baru mengetahui kalau sebenarnya ia lulusan Al Azhar Kairo. Embel-embelnya Prof. Dr. Gelarnya setingkat dengan Quraish Shihab yang juga lulusan Al Azhar. Tapi ia tidak mau memakai gelarnya karena ke-tawadhu-annya.
Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Untuk menjadi Wali Allah di jaman sekarang, tidak perlu ceramah kesana kemari, masuk TV, dipanggil orang dengan bayaran yg besar. Tidak perlu menjadi pintar tapi kerjanya melecehkan orang lain, atau memandang orang hanya dari hartanya.”
Akui saja, banyak sekali uztad-uztad yang seperti itu jaman sekarang. Bahkan banyak uztad-uztad pintar dari daerah-daerah yang lari ke Jakarta, karena bisa menangguk uang banyak di Jakarta, padahal di daerah asalnya banyak orang yang perlu dan ingin belajar agama.Untuk menjadi Wali Allah di jaman sekarang cukup jaga hati kita dari urusan keduniaan saja, karena itu saja sudah susah banget. Bukan saja urusan nafsu kita untuk kaya, atau kesenangan kita untuk berfoya-foya tapi juga dari hal-hal kecil yang sudah menjadi bagian dari hidup kita.Seperti masalah gossip yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Kadang kita sudah menghindari infotainment, eee ada teman nelpon bawa gossip baru, udah gitu kita juga senang mendengarnya. Bahkan ada yang bilang, itu bukan gossip, itu beneran kok….haduh! Kl beneran namanya GOSSIP, kl gak bener namanya FITNAH!
Kita juga tanpa sadar menjudge orang, “si ini beginilah”, “heran si itu begitu”. Padahal kita tidak pernah tahu, mungkin orang-orang yang kita ‘cap tidak benar’, lebih baik di mata Allah.And one thing, yang paling susah dari semuanya adalah menundukkan hati kita untuk tawadhu. Tanpa sadar kita kadang suka menjadi riya (hayo ngaku…). Sebenarnya itu manusiawi. Orang2 seperti Uztadzah Mahani sangat mungkin untuk menjadi terkenal, bahkan mungkin kalau beliau terkenal, akan lebih terkenal dari uztadzah-uztadzah yang sekarang. Tapi ia tidak mau. Di saat kita terkenal, semua orang akan menyanjung kita. Mengelu-elukan kita. Dan lama-lama hati akan berbalik. Tumbuh keriyaan, lama-lama berubah jadi sombong, dll. Menundukkan hati kita adalah rintangan kita yang paling besar. Mungkin karena itu ia menolak ketenaran, wallahu’allam.
Yang pasti, beliau mungkin tidak terkenal di dunia, tapi beliau pasti terkenal di ‘langit’, seperti Uwais Al Qorny.Tulisan ini saya tulis bukan untuk menyindir atau mengkritik orang-orang tertentu, tapi sekadar rasa kagum dan bangga bisa mengenal orang-orang seperti Udztadzah Mahani. Penulis juga orang yang masih belajar dan jauh dari sifat-sifat mulia di atas. Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi kita semua.
Kamis, 03 Desember 2009
Senin, 03 Agustus 2009
Mbah Surip Meninggal Dunia
Mbah Surip Meninggal Dunia
Penyanyi fenomenal Mbah Surip "Tak Gendong" meninggal dunia, Selasa (4/8/2009) pukul 10.30 WIB. Penyanyi 'Tak Gendong' itu sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.
"Iya benar tadi meninggal pukul 10.30 WIB," kata Mega, petugas pendaftaran RS Pusdikkes saat dikonfirmasi detikcom. Mbah Surip memiliki nama asli Urip Ariyanto. Menurut KTP, dia lahir pada 1963. Mbah Surip mendulang uang miliaran rupiah dari ring back tone (RBT) 'Tak Gendong'.
Penyanyi bergaya Bob Marley yang terkenal dengan 'I Love You Full' ini berencana membuat album Ramadan tak lama lagi. Dia juga berniat menggandeng Manohara untuk berduet. Tak gendong ke mana-mana... Selamat jalan, Mbah Surip....
Penyanyi fenomenal Mbah Surip "Tak Gendong" meninggal dunia, Selasa (4/8/2009) pukul 10.30 WIB. Penyanyi 'Tak Gendong' itu sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.
"Iya benar tadi meninggal pukul 10.30 WIB," kata Mega, petugas pendaftaran RS Pusdikkes saat dikonfirmasi detikcom. Mbah Surip memiliki nama asli Urip Ariyanto. Menurut KTP, dia lahir pada 1963. Mbah Surip mendulang uang miliaran rupiah dari ring back tone (RBT) 'Tak Gendong'.
Penyanyi bergaya Bob Marley yang terkenal dengan 'I Love You Full' ini berencana membuat album Ramadan tak lama lagi. Dia juga berniat menggandeng Manohara untuk berduet. Tak gendong ke mana-mana... Selamat jalan, Mbah Surip....
Senin, 18 Mei 2009
Kalau Rejeki gak kemana
Kata-kata ini merupakan ungkapan yang sangat umum kita dengar, apalagi saat kita sedang mengharapkan suatu proyek, atau saat akhir tahun jaran anak-anak sekolah, dimana sebagai orang tua kita harus menyediakan sejumlah dana yang biasanya tidak sedikit. Nah, ungkapan tersebut terbukti kebenarannya pada diri penulis.
akhir tahun 2008 kemarin, salah satu klien saya meminta untuk mengganti seluruh handset telepon di kantornya denga yang baru. Kemudian penulis melakukan negosiasi dengan vendor handset tersebut sehingga penulis mendapat suatu komposisi harga yang didalamnya sudah termasuk keuntungan untuk penulis sendiri.
Harga tersebut penulis kirimkan ke klien pada tanggal 28 Desember 2008. Dikarenakan libur akhir tahun, maka baru pada awal tahun penulis mendapat konfirmasi harga tesebut disetujui oleh klien, maka penulis melakukan rencana pembelian produk tersebut ke vendor.
Ternyata menurut vendor harga tersebut sudah tidak berlaku lagi untuk awal tahun 2009. Harga baru harus ditambah +- 15% dari harga yang ditawarkan semula. Setelah dihitung-hitung maka keuntungan penulis menjadi berkurang. Tapi karena sudah ditawarkan ke klien dan sudah disetujui serta untuk menjaga hubungan yang sudah terjalin selama ini, maka dengan berat hati penulis tetap melakukan pembelian produk tersebut, walau dengan tingkat keuntungan yang sedikit.
Penulis kemudian membawa produk tersebut dan melakukan instalasi di kantor klien. Ternyata klien juga membutuhkan setting ulang untuk produk tersebut, dimana penulis meminta tambahan untuk jasa tersebut dan disetujui.
Disinilah ungkapan "kalau rejeki gak kemana" berlaku. Setelah penulis menghitung ulang, maka tingkat keuntungan yang didapat bahkan lebih besar dari perhitungan awal sebelum harga dinaikkan oleh vendor handset tersebut. Ternyata "perhitungan Allah" itu lebih akurat dibandingkan hambanya
Dari Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad: Telah berkata Ibrahim Al-Khawwas,
“Ilmu itu semuanya tercakup di dalam dua kalimat, yaitu jangan membebani diri untuk memperoleh sesuatu yang memang telah dijaminkan sepenuhnya untuk kamu (tentang rizki) dan jangan mengabaikan apa yang telah dituntut dari kamu (untuk kamu kerjakan)”
Reza
Selasa, 21 April 2009
Andai Kartini Khatam Mengaji...
Sejarah, penggal waktu yang telah ditinggalkan. Sejarah, hanyalah saksi bisu
yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya.
Sejarah bisa berarti beda jika kacamata baca manusia juga berbeda.
Adalah sebuah keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif berdasarkan fakta.
Demikian halnya dengan perjuangan Kartini.
Benarkah Kartini menginginkan kaum wanita mengejar kesetaraan kedudukan dengan kaum laki-laki di semua bidang ?
Obyektifitas adalah syarat utama untuk mengkaji sebuah sejarah. Tanpa ada
semangat obyektifitas, sebuah peristiwa sejarah dapat dimaknai dan
disalahgunakan sesuai dengan kepentingan pihak yang bersangkutan. Untuk
mendukung sebuah pendapat atau mewujudkan sebuah tujuan, kisah sejarah bisa
dipenggal, dihilangkan atau justru ditambahi penekanan pada bagian-bagian
tertentu. Penyusunan sejarah seperti ini hanya akan mengantarkan masyarakat
kepada sebuah kesimpulan yang salah, bukan kepada pelajaran sebenarnya yang ada
dibalik kisah kehidupan sang tokoh.
Demikian halnya dengan sejarah perjuangan R.A Kartini. Selama ini yang dipahami
dan dicatat dari perjuangan Kartini adalah semangat emansipasi untuk menjadikan
kaum wanita mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum laki-laki. Sehingga
yang terlihat kemudian adalah wanita Indonesia yang tergopoh-gopoh untuk
menempatkan diri pada posisi-posisi yang didominasi oleh kaum pria. Kata
"emansipasi" telah bergeser kearah liberal, gender, feminisme dan ide-ide
penentangan terhadap fitrah kaum wanita yang memang berbeda dengan lawan
jenisnya.
Kartini, Antara Dominasi Adat dan Pengaruh Barat
Menelisik kehidupan seorang tokoh tak terlepas dari lingkungan internal dan
eksternal yang membentuk kepribadiannya. Kartini tumbuh dalam dua suasana dan
pemikiran yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Sebagai keturunan
ningrat, Kartini tumbuh di lingkungan yang kuat dengan adat istiadat.
Di satu sisi, keningratan yang ada padanya, memungkinkan Kartini untuk memiliki
teman-teman dari Belanda yang mengagungkan kebebasan. Dari surat-surat Kartini
yang terhimpun, nampak bahwa jalinan persahabatan ini telah menyumbangkan sebuah
pemikiran tersendiri bagi perkembangan dirinya.
Kartini tumbuh di lingkungan Jawa yang teguh memegang adat-istiadat. Di tengah
kuatnya dominasi adat, Kartini berani berdiri untuk menantang semua adat itu.
"Peduli apa aku dengan segala tata cara itu... segala peraturan, semua itu
bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan
bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu... tapi sekarang mulai
dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara
lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara
liberal itu boleh dijalankan" (Surat Kartini kepad Stella, 18 Agustus 1899).
Kartini memahami bahwa setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat
perlakuan yang sama. Kartini menolak adat Jawa yang membedakan manusia
berdasarkan asal keturunannya.
Kebencian Kartini terhadap segala bentuk etiket yang diskriminatif, mendorongnya
untuk mengintip nilai-nilai yang berlaku di kalangan teman-teman Belandanya.
Kartini menganggap bahwa peradaban mereka lebih tinggi dibandingkan masyarakat
Jawa. Hal ini terungkap dari petikan suratnya "Orang kebanyakan meniru kebiasaan
orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi
lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa" (Surat
Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899).
Tak salah jika Kartini memiliki kesimpulan seperti itu. Penjajah Belanda telah
berhasil menanamkan rasa rendah diri kepada masyarakat pribumi. Diskriminasi
yang dilakukan Belanda telah mengajarkan bahwa pribumi atau bangsa Timur adalah
rendah dan bangsa Barat adalah mulia.
Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran dan rasa rendah diri yang dialami
oleh masyarakat adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum
pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh. Pendidikan menjadi hak paten bagi
kalangan ningrat dan para penjajah.
Titik tolak perjuangan Kartini diawali dengan membenahi pendidikan di kalangan
pribumi, tak terkecuali kaum wanita. Kartini membuat nota yang berjudul "Berilah
Pendidikan Kepada Bangsa Jawa" kepada pemerintah kolonial. Dalam nota tersebut,
Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah
Hindia Belanda, kecuali Departemen angkatan Laut (Marine). Kartinipun merasa
perlu untuk belajar ke Barat. "Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland,
karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah
kupilih" (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900).
Barat telah menjadi panutan dan kiblat Kartini untuk melepaskan diri dari
kungkungan adat. "Pergi ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang
terakhir" (Surat Kartini kepada Stella, 12 Januari 1900). Namun cita-cita ini
harus kandas di tangan para sahabat-sahabatnya yang tak menginginkan Kartini
memiliki pemahaman lebih maju lagi.
Pergolakan Pemikiran Setelah Mengenal Islam
Sulit bagi Kartini untuk bertahan di lingkungan yang bertentangan dengan
pemikirannya. Di tengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran
Barat, Kartini mencoba mencari jawaban.
Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawaban atas
pertanyaan-pertanya an yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami
ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat
tempat di benak Kartini. Hal ini dikarenakan pengalaman yang tak mengenakkan
dengan Sang ustadzah. Sang ustadzah menolak menjelaskan makna ayat yang sedang
diajarkan.
"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa ? Agama Islam
melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya
agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku,
kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya ? Al Quran terlalu suci, tidak
boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang
mengerti bahasa Arab.
Di sini orang diajar membaca Al Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya.
Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna
yang dibacaya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa
Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang
kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa,
asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella ?" (Surat Kartini
kepada Stella, 6 November 1899).
Namun, pertemuannya dengan kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama
besar dari Darat, Semarang, telah merubah segalanya. Kartini tertarik pada
terjemahan Surat Al Fatihah yang disampaikan sang kyai. Kartinipun mendesak
salah satu paman untuk menemaninya bertemu sang kyai. Berikut adalah petikan
dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila
Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat.
"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang
berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?". Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar
pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. "Mengapa Raden Ajeng
bertanya demikian?" Kyai Sholeh Darat balik bertanya. "Kyai, selama hidupku baru
kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran
yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan main rasa syukur
hatiku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para
ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al_Quran dalam bahasa
Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera
bagi manusia?"
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk
menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai
Sholeh Darat menghadiahkan terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril
Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah
sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang
sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal
dunia, sehingga belum selesai diterjemahkan seluruh Al Quran ke dalam bahasa
Jawa.
Andai saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al Quran) maka
tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan
ajarannya. Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah
terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap
ajaran Islam. Pada mulanya beliau adalah sosok paling keras menentang poligami.
Tetapi setelah mengenal ajaran Islam, beliau mau menerimanya.
Upaya Meneladani Kartini
Upaya untuk menerjemahkan perjuangan Kartini oleh kaum wanita sekarang ini
nampaknya telah melampaui batas. Petikan surat Kartini berikut ini menegaskan
kesalahan penterjemahan kaum wanita Indonesia.
"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan
sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan
laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya
yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan
kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi
ibu, pendidik manusia yang pertama-tama" (Surat Kartini kepada Prof. Anton Dan
Nyonya, 4 Oktober 1902).
Tak ada sepatah katapun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita untuk
mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan dan peran agar sejajar dengan kaum
pria. Kartini memahami bahwa kebangkitan seseorang ditandai oleh kebangkitan
cara berfikirnya. Kartini mengupayakan pengajaran dan pendidikan bagi wanita
semata-mata demi kebangkitan berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan
kewajibannya sebagai seorang wanita.
Atas nama perjuangan Kartini, para wanita justru terjebak pada nilai-nilai
liberalisasi dan ide-ide Barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan.
Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela hak-hak wanita sangat
jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam
segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk
mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu.
Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan memenuhi
seruan Surat Al Baqarah ayat 193. Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari
gelap kepada cahaya telah mendoronganya untuk merubah diri dari pemikiran yang
salah kepada ajaran Allah. Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan
Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang teguh
ajaran agamanya.
"..., tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya
yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri
menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? dapatkah ibu menyangkal bahwa di
balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama
sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" (Surat Kartini kepada Ny.
Abendanon, 27 Oktober 1902).
co-pas from: http://www.dakwahka mpusmalang. com/index. php?option= com_content&
view=article& id=139:andai- kartini-khatam- mengaji&catid= 34:jadwa& Itemid=55
Senin, 09 Februari 2009
I JUST LOVE HEARING IT!
One sunny day in January 2009, an old man approached the White House from across Pennsylvania Avenue, where he'd been sitting on a park bench. He spoke to the US Marine standing guard and said, "I would like to go in and meet with President Bush."
The Marine looked at the man and said, "Sir, Mr. Bush is no longer president and no longer resides here."
The old man said, "Okay" and walked away.
The following day, the same man approached the White House and said to the same Marine, "I would like to go in and meet with President Bush."
The Marine again told the man, "Sir, as I said yesterday, Mr. Bush is no longer president and no longer resides here."
The man thanked him and again, just walked sway. The third day, the same man approached the White House and spoked to the very same US Marine, saying "I would like to go in and meet with President Bush."
The Marine understandably agitated at this point, looke at the man and said, "Sir, this is the third day in a row you have been asking to speak to Mr. Bush. I've told you already that Mr Bush is no longer the president and no longer resides here. Don't you understand?"
The old man looked at the Marine and said, "Oh, I understand. I JUST LOVE HEARING IT!"
The Marine snapped to attention, saluted, and said, "See you tomorrow, Sir!"
Kamis, 05 Februari 2009
The Girl Who Silenced The World: Severn Suzuki
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ).ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak" yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah" lingkungan.
Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB tahun 1992, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.
Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang" terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.
Inilah Isi pidato tersebut: ( sumber The Collage Foundation )
Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization
Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak" berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.
Saya berada disini mewakili anak" yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.
Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang" yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami tidak boleh tidak di dengar.
Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.
Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan"nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang" dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang" liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu". tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal" tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.
Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah" kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?
Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!
Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan" salmon ke sungai asal nya..
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang" yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.
Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!
Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki" dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.
Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.
Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu tetap saja negara" di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.
Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak" yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak" jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, dan Cinta dan Kasih sayang " .
Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?
Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak" tersebut berusia sama dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak" yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .
Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.
Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak.
Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh melakukan tersebut?
Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak" anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak" mereka dengan mengatakan " Semuanya akan baik-baik saja ". 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan' dan ' ini bukanlah akhir dari segalanya'
Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata" mu '
Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.
Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata" tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang" penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.
dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..
" Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin Saya .... tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "
Service Interruption
Dear World:
We, the United States of America, your top quality supplier of the ideals of liberty and democracy, would like to apologize for our 2001-2008 interruption in service. The technical fault that led to this eight-year service outage has been located, and the software responsible was replaced November 4. Early tests of the newly installed program indicate that we are now operating correctly, and we expect it to be fully functional on January 20. We apologize for any inconvenience caused by the outage. We look forward to resuming full service and hope to improve in years to come. We thank you for your patience and understanding,
Sincerely,
THE UNITED STATES OF AMERICA
Langgan:
Entri (Atom)
